JEJAK SYIAH DI SUMATERA BARAT

Oleh : Ibnu Aqil D. Ghani

 

   Islam Masuk Ke Sumaterra Tengah

                Para ahli Sejarah Islam dari Timur Tengah menyatakan bahwa  hubungan dagang antara pulau Andalas dengan Timur Tengah telah ada sejak sebelum Nabi Isa lahir. Terutama dengan negeri-negeri di Yaman misalnya dengan Saba’, San’a dan sebagainya. Hubungan tersebut tetap berlanjut sampai berabad-abad  kemudian dan tidak putus hingga sampai masa kenabian.

Para pedagang dari kedua belah pihak  secara aktif melakukan interaksi positif. Mereka saling berkunjung dan membawa barang dagangan masing-masing. Para pedagang Arab datang ke Andalas dan para pedagang Andalas datang ke Arab. Sehingga kedua belah pihak telah saling mengenal. Dari Andalas barang dagangan yang laku keras adalah kemenyan, kapur barus, emas dan kayu cendana. Diyakini oleh banyak kalangan bahwa kata “Kafuro” dalam Al Qur’an adalah kata yang berasal dari bahasa Melayu.

Kelahiran Islam yang dibawa oleh Nabi Saw (penghujung abad ke Enam (Nabi Saw lahir 571 M) diperkirakan sezaman dengan munculnya kerajaan Melayu Lama. Kerajaan Melayu Lama waktu itu satu-satunya kerajaan bangsa Melayu. Sedangkan  asal usul mereka bangsa Melayu terdapat dua versi pertama ada yang mengatakan mereka tiba melalui Bukit Siguntang-guntang di Sumatera Selatan dan sebagian mengatakan turun dari Gunung Merapi.  Hermat saya kedatangan bangsa Melayu pertama kali di Asia Tenggara  di Gunung Merapi jauh lebih kuat, dan ini sesuai dengan Tambo Lama Melayu

Dari Mana datang pelita

Dari Telong nan bertali”

Dari mana nenek moyang kita

 Dari puncak Gunung Merapi

 

Namun mengenai Kerajaan Melayu Lama sebagai kerajaan Melayu tertua tak seorang pun ahli sejarah Melayu yang membantahnya. Kerajaan Melayu Lama didirikan oleh salah seorang nenek moyang bangsa Melayu “Sang Sapurba”. Salah seorang dari anak Sang Sapurba mendirikan kerajaan Melaka di Semenanjung namanya Prameswara. Ia meluaskan kerajaannya dengan menguasai Raja Lebar Daun di Sumatera Selatan atau Palembang sekarang.

Maka orang-orang dari pusat kerajaan Melayu lama itulah yang melakukan perdagangan dengan bangsa Arab pra Islam.Dan kebiasaan berdagang keseluruh dunia ini akhirnya menjadi budaya bagi bangsa Melayu:

Keratau madang di hulu

Berbuah berbunga belum

Kerantau b ujang dahulu

Di rumah berguna belum

 

Dengan saling berkunjungnya para pedagang Arab dan Melayu ke Sumatera yang weaktu itu disebut pulau Emas maka informasi tentang kenabian Muhammad Saw telah sampai ke dunia Melayu sejak Nabi Saw mulai berdakwah di Makkah. Namun, baru menjadi perhatian luas setelah beliau membangun Daulah Islam di Madinah. Dengan berkembangnya Islam secara pesat di Madinah tentu sangat menarik bagi para pedagang Melayu yang pulang balik ke Arab.

Mengenai keberadfaan Nabi di Makkah dan Madinah telah disebut-sebut seorang yang berpengaruh di Melayu Tua yang dianggap sebagai Tetua Adat Dt Perpatih Nan sabatang dalam syair-syairnya.

  Dalam waktu yang tak begitu lama, Islam berkembang pesat di seluruh Melayu Lama dan diikuti oleh negeri-negeri lain yang merupakan rantau Melayu. Waktu itu kerajaan Melayu yang muncul di negeri lain tetap berinduk ke pada Melayu Lama. Kerajaan Melayu yang lain, misalnya Sriwijaya, Tulang Bawang, Taramu Negara, Pahang dan Trenggano misalnya merupakan kerajaan-kerajaan yang didirikan oleh putra-putra Melayu lama yang merantau ke sana.

Dengan Islamnya Melayu Lama dan diikuti oleh bangsa-bangsa Melayu yang menyebar di Asia Tenggara membuat kekuatiran yang berlebihan dari bangsa Jawa yang masih beragama Hindu dan Budha sehingga mereka melakukan penyerangan membabi buta terhadap Melayu Lama sehingga terjadilah perang dahsyat di Kiliran Jawo. Kedatangan bangsa Jawa (Singosari) tersebut kemudian oleh sejarawan disebut Ekspedisi Pamalayu.

Bangsa Melayu Lama tak dapat dikalahkan sepenuhnya. Para prajurit Muslim mengumpulkan kekuatan dan membangun Kerajaan kembali dengan pusatnya dipindahkan ke Pagaruyung. Kerajaan yang dibangun kembali itu  akhirnya dikenal sebagai Kerajaan Melayu MInangkabau yang kemudian lebih dikenal dengan Minangkabau atau Kerajajan Pagaruyung.

Dengan demikian, Islam telah masuk ke Sumatera Tengah jauh sebelum masuk ke Aceh atau Malaka dan dibawa langsung oleh Ulama dari Timur Tengah dan Ulama pedagang Melayu Lama (MInangkabau).

Bani Ghassan Menyingkir dan Terdampat di Pantai Barat Sumatera Tengah

                Di masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq terjadi peperangan dengan kaum Muslim yang engkar berzakat terutama Bani Ghassan. Sebagian Bani Ghassan menyingkir ke laut dan menjadi pengungsi. Sebagiannya sampai ke Pantai Barat Sumatera. Mereka tinggal di suatu tempat yang kemudian tempat mereka itu disebut Ghassan dekat dengan Tiku Agam. Dengan demikian, pengungsi Bani Ghassan dekat dengan pusat Minangkabau yakni Luhak Nan Tigo (Agam, Tanah Datar dan 50 Kota)..

                Di perkampungan mereka yang baru akhirnya mereka diterima dan mereka  berbaur dengan masyarakat dan menyadari kekeliruan metreka. Mereka tetap menjadi Muslim seperti sediakala. Diterimanya kedatangan mereka serta kembalinya memeluk Islam sebagaimana sediakala besar kemungkinan disebabkan oleh karena masyarakat Melayu telah memeluk Islam dan masyarakat Melayu menerima ajaran Islam secara utuh.

                Sampainya orang-orang Bani Ghassan ke perkampungan Ghassan di sekitar Tiku Agam – Sungai Limau Padang Pariaman bolehj jadi di masa Abu Bakar Ash-shidiq dan bisa jadi beberapa tahun setelah Abu Bakar Shidiq. Dan jika pun setelah khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq tentulah tak memakan waktu yang lama.

Pada Masa Bani Umayyah

                Sebagian sejarawan meyakini islam masuk ke Indonesia pada masa Bani Umayyah atau lebih kurang tahun 40 Hijrah. Dan di bawa oleh Ulama dan pedagang Arab yang sampai ke Indonesia. Dan negeri yang mula-mula masuk Islam adalah Melayu Lama. Sebagian lagi menyebut Aceh adalah negeri pertama yang menjadi Muslim.

                Tetapi oleh karena para pedagang Melayu tak putus-p[utus berhubungan dengan pedagang Timur Tengah maka masuknya Islam ke Melayu Lama jauh lebih  awal. Apa lagi sejak sediakala bangsa Melayu telah dikenal sebagai pelaut, pedagang yang suka pergi ke negeri-negeri yang jauh.

                “Keratau madang di hulu berbuah berbunga belum

                Ke rantau bujang dahulu di rumah berguna beluim”

               

Dengan demikian dugaan bahwa islam menyebar dari Melayu Lama ke Barus, Aceh, Deli dan malaka lebih kuat. Karena pada dasarnya negeri-negeri tersebut adalah dengan perluasan bangsa Melayu dimana mereka mengakui nenek moyang mereka berasal dari Timur Tengah. Pengakuan bahwa bangsa Melayu berasal dari Sumateras tengah (Gunung Merapi) diakui oleh seluruh bangsa Melayu, terrutama cerita-cerita dari nenek moyang mereka yang teguh memegang tradisi bangsa Melayu. . Itulah sebabnya Melayu Lama (Tua) yang kemudian dikenal dengan Pagaruyung dihormati dan tak ada suatu raja pun yang mau melawannya, apa lagi menyerangnya.

 

Syiah Masuk Ke Minangkabau

                Masuknya Syiah ke Minangkabau adalah di penghujung abad ke 17. Diperkirakan datang dari dua jalur yakni  India                dan Persia. Jalur India terbukti sebutan bagi pendakwah dengan Labbay yang merupakan nama kota Muslim di Gujarat. Sedangkan jalur Persia lewat  Aceh melalaui Hamzah Al Fansyuri. Dan orang pertama yang mengembangkan Syiah lewat Aceh tersebut adalah para murid Hamzah Al Fansyuri dan terkemuka adalah Sekh Burhanuddin.Burhanuddin sendiri sebenarnya bukanlah nama seseorang tetapi lebih kepada gelar kehormatan yang berarti Burhan Addin (Penerang Agama).

                Baik yang datang dari India maupun dari Persia keduanya beraliran Syiah. Keduanya berkembang di pantai Barat Sumatera Barat sekarang ini, tepatnya kawasan Padang Pariamasn.

Kewlompok Syatariah akhirnya jauh lebih berkembang dan pustnya di Ulakan, Pakandangan dan Amnapalu Tinggi. Sedangkan dari India berkembang sekitar kota Pariaman sekarang ini. Dengan demikian tradisi bersafar dihidupkan oleh kelompok Syatariah sedangkan tradisi Tabuik (Tabut) dikembangkan oleh dari Gujarat India.

Namun bagaimana pun Syiah dan pengaruhnya tak begityu luas. Tidak melampaui kawasan Padang Pariaman. Sementara kawasan-kawasan yang dekat dengan pusat Kerajaan Melayu yang kemudian menjadi Minangkabau tetap berpaham Sunni.

 

Jejak Syiah di Sumatera Barat.

 Jejak Syiah di Sumbar masih terlihat jelas. Setidaknya hal itu didukung oleh beberapa fakta:

  1. Aliran Tarikat Syatariyah dan Wihdatul Wujud
  2. Pembawa Syiah dari Aceh masih rajin dikunjungi atau diziarahi oleh masyarakat Sumbar
  3. Budaya Tabuk di Pariaman
  4. Pernik-pernik pemikiran Syiah  masih tertanam di sebagian masyarakat

Kendati demikian, pengaruh Syiah tidaklah masuk ke dalam wilayah yang luas. Dan secara umum Sumbar tak tersentuh oleh ajaran Syiah. Paham Syiah berkembang di Padang Pariaman. Terutama di sekitar Ulakan serta pengikut Tarikat Syatariyah. 

Thariqat Syatariyah dan Wihdatul Wujud

                Thariqat Syatariyah adalah suatu Thariqat yang menisbahkan imam-imam mereka kepada ulama-ulama Syi’ah dan sampai ke Imam Ali. Antara Tariqat ini dengan aqidah Wihdatul Wujud yang dikembangkan oleh tradisi Syiah sangat dekat.

                Ke Sumatera Barat Thariqat ini dibawa oleh seorang anak muda dari Sikaladi Batusangkar (sebelah Utara Pagaruyung). Dan di daerah utama Minangkabau ini ajarannya tak diterima. Sehingga ia menyingkir ke Sintuk Pariaman. Dan dI Pariaman inilah ajarannya berkembang dengan pesat.

Syekh Burhanuddin

                Sekh Burhanuddin bukan lama sebenarnya, tetapi gelar kehormatan bagi pengembang Syiah di berbagai tempat. Setidaknya ada dua sosok Sekh Burhanuddin yang terkenal yakni Sekh Burhanuddin di Bengkulu  dan Sekh Burhanuddin di Pariaman. Keduya-duanya beraliran Syiah.

                Sekh Burhanuddin Bengkulu nama kecilnya Imam Senggolo yang dimakamkan di Pemakaman Karbela Bengkulu. Meski bukan pembawa Syiah pertama ke Bengkulu namnya cukup dikenal luas. Para penyebar agama Islam beraliran Syiah pertama  dari Punjab yang datang ke Bengkulu pada waktu itu adalah para pelaut ulung di bawah pimpinan Imam Maulana Irsyad. Rombongan Imam Maulana Irsyad yang datang ke Bengkulu berjumlah 13 orang, antara lain terdapat : Imam Sobari, Imam Bahar, Imam Suandari dan Imam Syahbuddin. Mereka tiba di Bengkulu pada tahun 1336 Masehi (756/757 Hijriah). Setibanya di Bengkulu kaum Syiah penyayang Amir Hussain ini langsung melaksanakan rangkaian Upacara Ritual Tabot yang diselenggarakan selama 10 hari, yakni dari akhir bulan Dzulhijjah 756 H sampai dengan tanggal 10 Muharram 757 H. Nama Imam Maulana Irsyad dan kawan-kawan ini kurang dikenal dalam sejarah, hal ini mungkin mereka pada waktu itu belum menetap secara tetap di Bengkulu. Nama yang lebih dikenal dalam sejarah Tabot di Bengkulu adalah Syekh Burhanuddin (Imam Senggolo). Syekh Burhanuddin hidup di Bengkulu pada masa Inggeris sudah masuk ke Bengkulu, yakni antara tahun 1685 sampai dengan 1825..

Syekh Burhanuddin Pariaman (Ulakan)  adalah seorang beraliran Syiah melalui Tariqat Syatariyah di Minangkabau dilahirkan di Guguk Sikaladi Pariangan Padang Panjang dengan nama kecil Pono. Ia mendalami Tariqat Syatariyah dengan tokoh Aceh terutama berguru pada Abdur Rauf Singkli (Syiah Kuala)  selama 10 tahun  sekembali dari Aceh mendirikan surau di Tanjung Medan dan surau-surau lainnya di Ulakan.

Syekh Burhanuddin ini meninggal dunia pada hari Rabu 10 Syafar tahun 1116H atau 1704 M di Ulakan. Hari kematiannya dirayakan pengikutnya setiap tahun yang dikenal dengan nama “basapa”. Jika 10 Syafar jatuhnya pada hari Rabu, akan diperingati sebagai “basapa gadang” , bersapar besar-besaran.

Sekh Burhanuddin Ulakan adalah tokoh yang berperan penting dalam mengembangkan ajaran Syiah melalui Tariqat Syatariyah. Meski dia sendiri berasal dari Tanah Datar, namun hampir tak ada pengaruhnya di Tanah Datar. Kemungkinan dia  diusir oleh masyarakat karena ajarannya yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam. Tetapi, di daerah pesisir barat terutrama Ulakan dan Padang Pariaman ajarannya banyak diterima.

Sementara gurunya  Abur Rauf Singli  (1105- 1193) berasal dari Persia. Dia dianggap sebagai orang pertama pembawa ajaran Syatariyah ke Indonesia. Gurunya yang lain adalah Hamzah Al Fansyuri. Sedangkan Tariqat Syatariyah sendiri merupakan kelanjutan dari pengembangan paham sesat Wihdatul Wujud yang diajarkan olkeh Ibnu Arabi dan Al Halaj.

Tabot

Tidak ada catatan tertulis sejak kapan upacara Tabot mulai dikenal di Bengkulu. Namun, diduga kuat tradisi yang berangkat dari upacara berkabung para penganut paham Syi’ah ini dibawa oleh para tukang yang membangun Benteng Marlborought (1718-1719) di Bengkulu. Para tukang bangunan tersebut, didatangkan oleh Inggris dari Madras dan Bengali di bagian selatan India yang kebetulan merupakan penganut Islam Syi‘ah.

Para pekerja yang merasa cocok dengan tatahidup masyarakat Bengkulu, dipimpin oleh Imam Senggolo alias Syekh Burhanuddin, memutuskan tinggal dan mendirikan pemukiman baru yang disebut Berkas, sekarang dikenal dengan nama Kelurahan Tengah Padang. Tradisi yang dibawa dari Madras dan Bengali diwariskan kepada keturunan mereka yang telah berasimilasi dengan masyarakat Bengkulu asli dan menghasilkan keturunan yang dikenal dengan sebutan orang-orang Sipai.

Tradisi berkabung yang dibawa dari negara asalnya tersebut mengalami asimilasi dan akulturasi dengan budaya setempat, dan kemudian diwariskan dan dilembagakan menjadi apa yang kemudian dikenal dengan sebutan upacara Tabot. Upacara Tabot ini semakin meluas dari Bengkulu ke Painan, Padang, Pariaman, Maninjau, Pidie, Banda Aceh, Meuleboh dan Singkil. Namun dalam perkembangannya, kegiatan Tabot menghilang di banyak tempat. Hingga pada akhirnya hanya terdapat di dua tempat, yaitu di Bengkulu dengan nama Tabot dan di Pariaman Sumbar (masuk sekitar tahun 1831) dengan sebutan Tabuik. Keduanya sama, namun cara pelaksanaannya agak berbeda.

Jika pada awalnya upacara Tabot (Tabuik) digunakan oleh orang-orang Syi‘ah untuk mengenang gugurnya Husein bin Ali bin Abi Thalib, maka sejak orang-orang Sipai lepas dari pengaruh ajaran Syi‘ah, upacara ini dilakukan hanya sebagai kewajiban keluarga untuk yakni memenuhi wasiat leluhur mereka. Belakangan, sejak satu dekade terakhir, selain melaksanakan wasiat leluhur, upacara ini juga dimaksudkan sebagai wujud partisipasi orang-orang Sipai dalam pembinaan dan pengembangan budaya daerah Bengkulu setempat.

Kondisi sosial budaya masyarakat, nampaknya, juga menjadi penyebab munculnya perberbedaan dalam tatacara pelaksanaan upacara Tabot. Di Bengkulu, misalnya, Tabotnya berjumlah 17 yang menunjukkan kepada jumlah keluarga awal yang melaksanakan Tabot, sedangakan di Pariaman hanya terdiri dari 2 macam Tabot (Tabuik) yaitu Tabuik Subarang dan Tabuik Pasa. Tempat pembuangan Tabot (Tabuik) antara Bengkulu dan Pariaman juga berbeda. Pada awalnya Tabot di Bengkulu di buang ke laut sebagaimana di Pariaman Sumatera Barat. Namun, pada perkembangannya, Tabot di Bengkulu dibuang di rawa-rawa yang berada di sekitar pemakaman umum yang dikenal dengan nama makam Karbela yang diyakini sebagai tempat dimakamnya Imam Senggolo alias Syekh Burhanuddin.

            Pariaman bermakna daerah yang aman, adalah sebuah kota yang pernah menjadi bagian dari Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Sejak 2002 Kotif Pariaman menjadi Kota Pariaman dengan empat Kecamatan. Di daerah ini Tabuik konon sudah dikenal sejak tahun 1831 yang dibawa oleh tentara Inggris asal Sepoy atau Cipei (India). Bila di Bengkulu ada 17 Tabot, di Pariaman hanya ada 2 Tabuik yang melambangkan peti jenazah Hasan ra dan Husein ra, cucu Nabi Muhammad Shalalhu Alaihi Wasallam.

Bila di bengkulu dinamakan Festival Tabot, di Pariaman dinamakan Pesta Budaya Tabuik Piamanyang sejak 1974 menjadi kegiatan rutin bidang wisata Pemkot Pariaman. Sebagaimana di Bengkulu, Tabuik Pariaman juga diselenggarakan pada tanggal 1-10 Muharram, dan merupakan upacara peringatan atas meninggalnya Husein ra (cucu Nabi Muhammad Shalalhu Alaihi Wasallam).

 

Menurut Uun Halimah (uun-halimah.blogspot.com), prosesi panjang Tabuik diawali dengan membuat tabuik di dua tempat, yaitu di pasar (tabuik pasar) dan subarang (tabuik subarang).Masing-masing terdiri dari dua bagian (atas dan bawah) yang tingginya dapat mencapai 12 meter. Bagian atas mewakili keranda berbentuk menara yang dihiasi dengan bunga dan kain beludru berwarna-warni. Sedangkan, bagian bawah berbentuk tubuh kuda, bersayap, berekor dan berkepala manusia.

Bagian bawah ini menurut Uun Halimah pula, mewakili bentuk burung Buraq yang dipercaya membawa Husein ra ke langit menghadap Yang Kuasa. Kedua bagian ini kemudian disatukan. Caranya, bagian atas diusung secara beramai-ramai untuk disatukan dengan bagian bawah. Setelah itu, berturut-turut dipasang sayap, ekor, bunga-bunga salapan dan terakhir kepala. Untuk menambah semangat para pengusung tabuik biasanya diiringi dengan musik gendang tasa. Penyatuan dua bagian tabuik (atas dan bawah) biasanya usai menjelang waktu shalat dzuhur tiba. Kedua tabuik tadi dipajang berhadap-hadapan dan merupakan personifikasi dari dua pasukan yang akan berperang.

Ba’da Ashar, kedua tabuik diarak keliling Kota Pariaman. Masing-masing tabuik dibopong oleh delapan orang pria. Arak-arakan berlanjut hingga ke Pantai Gandoriah. Di tempat ini kedua tabuik diadu, untuk menggambarkan situasi perang diPadangKarbala. Usai diadu, kedua tabuik dibuang ke laut. Prosesi membuang tabuik ke laut ini melambangkan dibuangnya segala silang sengketa di masyarakat. Sekaligus, melambangkan terbangnya burung Buraq membawa jasad Husein ra ke Surga.

Terkesan, tradisi tabuik ini merupakan perpaduan antara tradisi syi’ah dan Hindu. Maka untuk memberi kesan Islami, pada perayaan tabuik yang berlangsung selama 10 hari ini, dibumbui pula dengan hal-hal yang berbau Islam, antara lain pengajian yang melibatkan ibu-ibu serta murid-murid TPA dan Madrasah Kota Pariaman.

Tahapan Pesta Budaya Tabuik di pariaman pada dasarnya sama saja dengan Festival Tabot di Bengkulu:

  1. Membuat tabuik.
  2. Menyatukan bagian atas dan bawah tabuik (tabuik naik pangkat).
  3. Mengambil tanah yang dilakukan saat adzan Maghrib (maambiak tanah). Pengambilan tanah ini mengandung pesan bahwa setiap manusia berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Tanah yang sudah diambil tadi kemudian diarak dan disimpan di dalam daraga, sebuah wadah berukuran 3 x 3 meter, dibalut kain putih, akhirnya dimasukkan ke dalam tabuik (pelambang peti jenazah).
  4. Mengambil batang pisang (maambiak batang pisang), kemudian ditanamkan di dekat pusara.
  5. Mengarak panja yang berisi jejari tangan tiruan keliling kampung (maarak panja-jari). Makna simboliknya, untuk memberitahukan kepada pengikut Husein ra bahwa jari-jari tangan Husein ra yang tercecer saat Perang Karbala telah ditemukan.
  6. Mengarak sorban (maarak sorban), yang mengandung makana simbolik bahwa Husein ra telah tewas dipenggal lawannya.
  7. Membuang tabuik, yaitu membawa tabuik ke pantai dan dibuang ke laut.

Pada tahun 2010 lalu, Pesta Budaya Tabuik Piaman digelar pada tanggal 7 hingga 19 Desember 2010. Agar terlihat Islami, pesta budaya ini diawali dengan Dzkir Bersama dan Tausiyah. Menurut Mukhlis Rahman (Walikota Pariaman), pesta budaya tabuik tahun 2010 berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena pada tahun 2010 ini juga ditampilkan pagelaran Barongsai, yang merupakan budaya khas Cina.

Jadi, pesta budaya tabuik pariaman ini campuran berbagai unsur, yaitu syi’ah, Hindu, Cina Konghucu dan Islam. Boleh jadi, ini namanya sinkretisme yang mengandung kemusyrikan, dan dibiayai pemerintah setempat.

Nampaknya, pemkot Pariaman cukup serius menjadikan tradisi tabuik sebagai bagian dari objek wisata lokal yang bisa dijual. Faktanya, pada tanggal 9 April 2011 lalu, pemkot Pariaman meresmikan dua unit Rumah Tabuik, yang dimaksudkan sebagai pusat kebudayaan, seni, dan tradisi Pariaman. Dana pembuatan rumah tabuik ini berasal dari APBN sebesar Rp2,3 miliar dan dana APBD Pariaman Rp1,71 miliar. Rumah tabuik terdiri dari Rumah Tabuik Pasa yang berlokasi di Jl. Syech Burhanuddin. Satu unit lainnya yaitu Rumah Tabuik Subarang terletak di Jl. Imam Bonjol.

Menurut penjelasan pihak terkait, Rumah Tabuik didirikan untuk menjalankan fungsi sebagai Museum Budaya, agar masyarakat luas dapat memperoleh informasi lengkap tentang proses pembuatan tabuik dan latar belakang sejarah yang menyertainya. Juga, dimaksudkan sebagai pusat pembuatan seluruh prosesi Tabuik. Yang lebih penting, dua unit rumah tabuik ini dimaksudkan sebagai alternatif tujuan wisata di kawasan Sumatera Barat.

Wihdatul Wujud

Sirnanya Pengaruh Syiah

Lama kelamaan pengaruh Syiah terus berkurang. Sirnanya pengaruh Syiah di MInangkabau disebabkan oleh beberapa hal diantaranya adalah

  1. Gencarnya dakwah yang dilakukan oleh ulama-ulama Minangkabau
  2. Munculnya para pembaharu yang sering disebut Harimau Nan Salapan yang akhirnya menyebabkan terjadinya Perang Paderi
  3. Berdirinya berbagai pondok pesantren secara merata di Sumatera Barat.

 

Syiah Gelombang Kedua

                Syiah gelombang kedua pengaruhnya masuk Ke Minangkabau (Sumbar), sekitar tahun 1978-1990. Hal itu disebabkan oleh pengaruh gegap gempitanya Revolusi Islam yang dibawa oleh Ayatullah Khomaini. Dan beliau berhasil menumbangkan tokoh sekuler Syah Reza Pahlevi.

                Tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh yang pikiran, semangat dan karyanya banyak dibaca oleh generasi muda waktu itu adalah Ali Syariati, Thaba’-Thaba’i di samping Imam Khomaini sendiri.

                Pengaruh tersebut bukan hanya melalui buku-buku bahkan diantara pemuda dan tokoh Sumbar pergi sendiri ke Iran dan me4nyambangi kota-kota seperti Qum dan Taheran. Diantara tokoh yang sampai ke Iran tersebut terdapat mahasiswa dan tokoh mubaligh.

                Sekembali dari Iran mereka cendrung kesyiah-syiahan. Misalnya mereka berceramah tentang keunggulan Revolusi Islam dan keagungan perjuangan Khomaini. Bahkan masyarakat menganggapnya benar-benar telah menjadi Syiah.

                Tetapi ketika masa euferia Revolusi Islam Iran berlalu, semangat kesyiahan mereka menjadi redup kembali. Dan hamp[ir tak ada mereka yang betul-betul menjadi Syiah.

                Hal ini berbeda dengan daerah lain dimana terdapat tokoh-tokoh yang benar-benar Syiah. Dan menyatakan dirinya benar-benar Syiah. Namun kebanyakan mereka masih samar-samar, apakah Syiah benaran atau tidak. Namun setelah kjasus Sampang, maka jati diri mereka mulai terbuka.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s