MAMPUKAH OBAMA BERDAMAI DENGAN Dunia ?

Gambar

                Siapapun Yang hidup sesudah Perang Dunia ke II pastilah akan tahu dan merasakan bahwa kekacauan dan ketegangan  dunia paling dahsyat terjadi  ketika Gorge W. Bush berkuasa, baik  Bush senior maupun anaknya Bush Yunior. Selama kedua orang itu menjadi presiden  di Amerika Serikat  setidaknya 2 juta orang meninggal di berbegai Negara, terutama Iraq, Afghanistan dan di kawasan lain.

                Kekejaman demi kekejaman dipertontonkan oleh Bush dan sekutunya  setiap hari mulai dari Bosnia, Guantanamo, Afghanistan, Iraq dan lebih-lebih di Palestina.  Sehingga muncul berbagai gerakan perlawanan di seluruh dunia Islam.  Bukannya sadar, bahkan selepas peristiwa runtuhnya menara kembar (yang menurut para pengamat , misalnya Gerry D. Gray; di rekayasa oleh pemerintahan Bush sendiri), Bush malah mengumumkan Perang Salib (Cross War) terhadap ummat Islam. Kemudian diubah sendiri namanya menjadi “Perang melawan teroris’. Sejak itu hari demi hari bom terus meledak menelan banyak korban.

                Sejak Bush mengumumkan ‘Perang Melawan Teroris’ korban sudah begitu banyak. Dan itu terjadi  di seluruh dunia. Ummat Islam dijadikan tertuduh dan didiskriminasi di mana-mana. Banyak kaum Muslimin ditangkap, diinterogasi bahkan di bunuh di seluruh dunia tanpa alasan yang jelas. Dan dunia tak terasa aman lagi sebagaimana sebelumnya.

                Akar dari Terorisme menurut DR Mahadhir Muhammad (Mantan PM Malaysia) adalah sikap arogansi dan standar ganda yang diterapkan Barat terhadap islam. Hal in ini nyata terlihat dari  cara pandang Amerika terhadap Israel. Ketidakadilan dan kezaliman yang diperlihatkan Israel dan sekutunya kepada kaum Muslimin di palestina itulah yang menyebabkan  sekelompok  kaum Muslimin marah. Dan kaum Muslimin yang marah itulah yang melakukan perjuangan sampai melakukan bom di banyak tempat . Menurutnya, terorisme tidak akan dapat diperangi, karena di tempat lain Israel dibebaskan melakukan kebiadaban secara terbuka. Perang anti terorisme dan dialog perdamaian akan dapat efektif, ketika akar-akar terorisme diketahui dan dibasmi. (radioaustralia.net.au/Indonesian dan http://www2.irib.ir/worldservice/melayuRADIO).

Rakyat Amerika sendiri membenci sikap  Bush itu dan memenangkan pesaingnya Barack Obama. Dengan memilih Obama, Dunia ketika itu bermimpi bebas dari peperangan dan kekerasan. Dan tak sedikit para ahli dan Guru Besar Amnerika yang melihat keanehan perang ini.

                Sayang,  pada priode I Obama tak melakukan hal yang berarti. Bahkan kebijakan “Perang Melawan Teroris-nya Bush tetap dibiarkan atau dilanjutkan. Sehingga dunia kelihatan masih saja kacau. Pada hal Obama sesungguhnya mampu menciptakakan dunia yang lebih aman dan l;ebih sunyi dari perang.

                Jika akar terorisme itu disebabkan oleh standar ganda Barat terhadap Dunia Islam, maka untuk mengakhiri kekacauan dunia yang disebabkan oleh ulah Bush ini perlulah dicabut akarnya, yakni ketidakadilan Barat terhadap islam.  Dan Obama punya peluang untuk itu, karena dia sebelum jadi presiden tak mempunyai beban sejarah.

                Obama,  misalnya bisa menekan Israel agar mengembalikan tanah Palestina yang diambil Israel pada tahun 1948 dan 1966. Obama mau berunding dengan Taliban dan Al Qaeda dan tak lagi mengacak-acak negeri-negerri Islam. Obama tak membiarkan pluralisasi dan sekularisasi agama yang disebarkan oleh LSM besutan lembaga Yahudi  merusak kemapanan kaum Muslimin. Jika itu dilakukan Obama maka saya yakin Obama akan dianggap sebagai sahabat dunia, termasuk dengan dunia Islam.

Modal Obama bersahabat dengan kaum Muslimin telah ada sejak sebelum ia lahir. Ayahnya adalah seorang Muslim. Begitu juga kakek dan neneknya. Ia dibesarkan di tengah komunitas Muslim, Jakarta. Ayo, Obama ciptakanlah perdamaian dunia dengan cinta dan tanpa senjata! Dan hentikan semua peperangan dengan ‘damai, senyum dan dialog, bukan dengan tongkat dan militerisme!  Dan pria yang ramah dan mudah senyum ini jika mau tentu bisa melakukannya. Dan jika itu dilakukan Obama maka  kelalaian  yang dilakukan pada priode I akan terhapus dan ia akan dicatat sebagai ksatria cinta damai. (Ibnu Aqil D. Ghani)

               

               

berita Syarif Tanudjaja, Musibah Membawanya pada Hidayah

Gambar

Ketua PITI DPW DKI Jakarta, HM Syarif Tanudjaja (tengah berpeci).

Etnis Tionghoa menyebar di seluruh penjuru dunia, termasuk di Indonesia.

Meski di Indonesia tergolong minoritas, mereka bisa juga berbaur dengan umat Islam yang merupakan mayoritas.

Salah satu yang membantu proses pembauran itu adalah para Muslim Tionghoa yang rata-rata adalah mualaf.

Dari sekian banyak Muslim Tionghoa, satu di antaranya adalah HM Syarif Tanudjaja SH. Pria yang menjabat Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) DKI Jakarta ini menjadi Muslim pada 1975 setelah melalui proses ujian hidup.

Pria yang memiliki nama Tionghoa Tan Lip Siang ini mendapat hidayah ketika dibelit kesusahan. Ia terjerat utang yang tidak sedikit. Padahal, utang tersebut diambilnya untuk membantu orang lain.

“Saya saat itu tidak habis pikir saja. Bagaimana mungkin niat baik itu akhirnya memberikan masalah ke dalam kehidupan saya?” kata pria kelahiran Cianjur, 20 Maret 1950 ini.

Hal itu tak seperti teori yang diajarkan agamanya saat itu, yakni perbuatan baik dibalas pula dengan kebaikan. Namun, dalam kasus Syarif, balasan yang diperolehnya hanyalah kesulitan baru.

Ia pun berusaha mencari jawaban atas keraguan tersebut melalui agamanya. Ia selalu percaya, agama bisa membuat seseorang menyelesaikan masalahnya. Setidaknya menemukan kedamaian saat mendapatkan cobaan hidup.

Namun, dia harus kecewa. “Pada ajaran agama Kristen, saya temukan dan saya ketahui adalah ketentuan-ketentuan akan dosa warisan. Maksudnya, akibat dosa Adam dan Hawa mengakibatkan manusia menanggung dosa warisan. Artinya, sekali pun bayi yang baru dilahirkan, sudah harus dianggap tidak suci lagi akibat dosa warisan Adam dan Hawa itu,” terangnya.

Dia berusaha untuk memahami konsep dosa warisan tersebut, namun yang ditemukannya adalah penjelasan yang membuat nya makin bingung. Misalnya, ketika Yesus ditanya oleh seorang Farisi, “Apakah yang menyebabkan anak tersebut menjadi cacat? Mungkinkah karena dosa kedua orang tuanya atau dosa siapa?”

Yesus kemudian menjawab kepada orang Farisi tersebut, “Anak ini menjadi cacat akibat dosa ibu bapaknya dan bukan dosanya sendiri. Tetapi, karena Allah akan memperlihatkan kasih-Nya.”
Kisah tersebut membuatnya bertambah bingung.

“Sehingga saat itu saya sempat berpikir, mengapa Tuhannya orang Kristen membuat umatnya menjadi resah, hingga saya merasa kesulitan untuk menyimpulkan makna yang terkandung dalam ayat-ayat Alkitab?” ujar Syarif.

Kegagalan tersebut membuatnya berhadapan dengan tembok tebal. Ia tidak tahu bagaimana caranya menghadapi dan lepas dari permasalahan hidup ini.

Keimanan Syarif tak lagi sama sejak saat itu. “Saya tidak berkonsultasi lagi kepada pendeta karena menurut saya pendeta tidak pernah mampu memberikan solusi untuk permasalahan hidup saya. Pada akhirnya, iman saya kepada Yesus sirna. Kristen tidak mampu membuat hati saya tenteram dan mantap,” ujar anak tertua dari enam bersaudara ini.

Ia kemudian berbalik kepada agama lamanya sebelum Kristen, yaitu Buddha dan Konghucu. Saat lahir, Syarif memang beragama Buddha seperti kebanyakan etnis Cina lainnya. “Namun, saya berubah menjadi Kristiani ketika sekolah karena disekolahkan di sekolah Kristen,” tuturnya.

Kecewa dengan Kristen, Syarif mulai lagi bersembahyang di wihara, belajar meditasi, serta tidak makan daging atau yang bernyawa pada waktu-waktu tertentu.

Ia pun bersembahyang untuk menghormati arwah leluhur di klenteng. “Semua ibadah saya lakukan, namun kedamaian tak juga saya temui. Sementara permasalahan terus mendekati saya.”

Kenal Islam
Perkenalan Syarif dengan Islam terjadi ketika dirinya bekerja sebagai pemborong penjual bahan bangunan dan alat tulis kantor. Saat itu, ia mempunya banyak relasi orang Islam. Dari mereka,Syarif mulai mengenal tata cara ibadah Islam.

Misalnya, sebelum menunaikan shalat, seseorang harus terlebih dulu mengambil air wudhu (bersuci). Dan, yang lebih menarik perhatiannya adalah kewajiban umat Islam menunaikan ibadah puasa dan zakat. Juga tentang pokok ajaran ketuhanan dalam Islam, yakni tauhid (mengesakan Allah).

“Allah itu Mahaesa (tunggal). Ia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan- Nya,” kata dia.

Masuk Islam Karena bosan dengan Kapitalisme

Charles Orr muak. Hidup di tengah masyarakat Inggris yang penuh kepalsuan. Sehari-hari, mereka seperti diperbudak kapitalisme yang penuh manipulasi.

Ia pun berpikir, ada sesuatu yang salah. Namun, dia tidak tahu pasti apa itu. Ada yang hilang dalam dirinya.

Dia tidak sadar akan hal itu. Karenanya, pria yang berprofesi sebagai arsitek ini berusaha mencari apa sebenarnya yang hilang dalam dirinya. Mengapa terasa ada lubang di dalam hatinya.

Hingga suatu hari, di awal usianya yang ke-40 tahun, Allah membantunya untuk memahami apa sebenarnya yang dia cari, apa yang dia butuhkan.

Allah menuntunnya untuk berkenalan dengan komunitas Muslim yang dipimpin Syekh Abdal Qadir as-Sufi al-Murabit. Syekh Abdal Qadir, semula bernama Ian Dallas, lahir di Ayr, Skotlandia, pada 1930.

Ia memeluk Islam pada awal 1960-an dengan mengucap syahadat di Masjid Al-Qarawiyyin, Fes, Maroko. Sejak itu, dia memprakarsai pengembangan komunitas-komunitas Muslim di jantung peradaban Barat, khususnya di Eropa.

“Saya melihat komunitas tersebut memiliki pandangan yang sama sekali berbeda dengan kebanyakan orang yang berada dalam kekuasaan kapitalisme sebagaimana yang saya temui dalam hidup saya,” ujar Charles Orr yang lahir di Belfast, Irlandia, pada 1940 ini.

Mereka memiliki cara pandang yang rasional tentang bagaimana sebuah ekonomi harus dijalankan. Bagaimana seharusnya seorang manusia memberikan nilai dalam kehidupannya. Bukan lagi soal bagaimana cara menjadi kaya atau terkenal. Tidak semata-mata tentang dunia, tapi lebih jauh di luar itu.

“Mereka memberikan alternatif pandangan dalam hidup saya dan entah bagaimana saya menyetujuinya. Saya merasa ini kebenaran yang saya cari,” ujar pria yang menyelesaikan pascasarjananya di bidang arsitektur di University of Wales, London, itu. Tertarik akan hal itu, Charles menetap selama tiga bulan

Syekh Abdal Qadir memperkenalkan padanya sejumlah gagasan. Hal pertama adalah terkait kembalinya dirham perak dan dinar emas serta tatanan muamalah.

Syeikh Abdal Qadir senantiasa menekankan bahwa pembentukan kedaulatan umat Islam bergantung pada penolakan sistem-sistem dan lembaga-lembaga keuangan riba saat ini.

Selanjutnya, mata uang Islam, yaitu dinar dan dirham, harus diperlakukan kembali guna melawan dominasi mata uang dolar. Mereka mempromosikan jejaring perdagangan Islam, mengembalikan pasar-pasar, dan memulihkan zakat secara benar.

Menjadi Muslim di Afrika, kata Abdal, tidaklah mudah. Di benua ‘hitam’ ini sulit menemukan makanan halal.

Tak hanya itu, Abdalhalim pun berusaha memberikan kontribusi melalui bidang yang digelutinya, yaitu arsitektur.

“Bagi saya, arsitektur yang ada saat ini adalah juga bagian dari kapitalisme,” katanya. Banyak bangunan yang dibangun hanya karena alasan bisnis dan komersial. Tak ada nilai sosial di dalamnya.

Sementara arsitektur dalam Islam, tidak semata-mata soal bentuk bangunan, tapi bagaimana bangunan tersebut bisa memberikan manfaat bagi orang sekitarnya. “Hal inilah yang selalu saya tekankan dalam setiap desain bangunan yang saya buat,” katanya.

Salah satu proyeknya adalah membuat imarat. Imarat adalah seni bangunan yang sangat mengaplikasikan ajaran Islam. Imarat memiliki dua fungsi, sebagai tempat melaksanakan kegiatan komersial dan kegiatan sosial.

Pada imarat terdapat setengah lapangan yang bisa digunakan oleh para pedagang untuk berjualan. Sedangkan, setengah lapangan lainnya digunakan sebagai fasilitas sosial, sekolah, klinik, dan masjid.

Hasil yang diperoleh dari kegiatan komersial akan dizakatkan kepada fasilitas sosial. Imarat juga dimaksudkan untuk mengembangkan kehidupan urban di sekelilingnya. Dengan adanya imarat, diharapkan sebuah lokasi bisa berkembang dengan baik secara ekonomi maupun sosial.

“Sederhananya, dalam Islam dijelaskan bahwa keberadaan masjid tidak hanya sebagai tempat beribadah, tapi juga sebagai pusat kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat. Ini pulalah yang menjadi fungsi imarat,” papar Abdal.

Dia menambahkan, Indonesia berpeluang besar untuk mengembangkan imarat ini. “Indonesia memiliki jumlah penduduk Muslim yang banyak. Indonesia pun memiliki banyak pegiat UKM. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pun bagus.

Imarat, dinar, dan dirham diyakininya merupakan konsep hidup Islami yang sesungguhnya. “Ketika kita bersyahadat, kita akan langsung tahu bahwa inilah yang diinginkan Allah,” katanya.

Bukan hanya sebuah penghambaan yang sifatnya pribadi, melainkan penghambaan yang diimplementasikan dengan memberikan manfaat yang besar kepada masyarakat.

“La illahaillah berarti beribadah secara pribadi antara Muslim dan Allah, tapi Muhammadar rasulullah adalah bentuk perintah untuk menjalin hubungan yang baik antara sesama manusia sebagaimana tuntunan Nabi Muhammad,” katanya.

Dengan memegang konsep tersebut, Abdal yakin seorang Muslim bisa mencitrakan Islam dengan baik ke mana pun dia pergi.

Sertifikat halal kerap diperjualbelikan kepada restoran ataupun tempat makan yang dimiliki oleh orang non-Muslim. Akhirnya, ia memilih untuk memasak makanannya sendiri.

“Saya ingin memastikan bahwa makanan yang saya makan itu halal. Saya akan menyembelih sendiri daging yang akan saya makan dengan mengucap nama Allah.”

Dia pun melihat dunia Islam yang berbeda di Afrika. “Mereka bilang mereka Islam, tapi mereka tidak benar-benar hidup dalam Islam,” kata dia.

Mereka, misalnya, menyalahi arti zakat yang sesungguhnya. ‘Di sana zakat dikumpulkan oleh organisasi tertentu, tidak ada bedanya dengan lembaga amal.

Uang zakat tersebut kemudian digunakan untuk membiayai proyek tertentu. Padahal, menurut Abdal, zakat seharusnya dikumpulkan oleh amil zakat dan hasil yang terkumpul diberikan kepada mereka yang membutuhkan.

Meski banyak hal yang tidak sesuai dengan Islam yang dia pahami, Abdalhalim berusaha untuk tetap berada di jalan Allah. “Saya terus belajar untuk menjadi Muslim yang lebih baik.”

Sosialisasikan Dinar, Dirham, dan Imarat
Sebagai murid Syekh Abdal Qadir, Abdalhalim berusaha memberikan kontribusi terhadap apa yang dicita-citakan komunitasnya. Dia juga giat menyosialisasikan dirham dan dinar sebagai sebuah bentuk perlawanan terhadap konsep ekonomi moneter yang ada saat ini.

“Pada akhirnya kita berharap, konsep ekonomi yang sesuai syariah bisa dijalankan dengan benar di dunia ini, mengalahkan segala bentuk ekonomi riba yang dijalankan para kapitalis,” katanya.

Dinar dan dirham diharapkan dapat menggantikan uang kertas yang menjadi produk kapitalis.

Gagasan itu membuat anak pertama dari tiga bersaudara ini sadar bahwa Islam ternyata memiliki kekayaan ilmu yang luar biasa besar. Islam tidak semata seperti yang digambarkan secara picik oleh media-media Barat.

Islam menawarkan konsep ekonomi yang lebih baik. Bukan ekonomi kapitalis yang hanya menguntungkan orang-orang tertentu. “Di sana saya sadar, saya harus keluar dari kepalsuan ini dan bergabung dengan Islam,” kata Charles.

Lalu setelah tiga bulan mengikuti aktivitas dalam komunitas Syekh Abdal Qadir, Charles memutuskan untuk menjadi Muslim dan meninggalkan agama lamanya, Kristen. Seiring dengan itu, Charles pun mengubah namanya menjadi Abdalhalim Orr.

Mengikuti sang guru
Saat ini, Abdalhalim menetap di Cape Town, Afrika Selatan, mengikuti sang guru yang membangun komunitas Muslim di negara tersebut. Sejak 2001, Syekh Abdal Qadir memang bermukim di kota tersebut dan memprakarsai berdirinya Dallas College.

“Sudah delapan tahun saya tinggal di sana, mengikuti guru saya. Saya akan berada di sana selama guru saya ada di sana,” katanya. Di sana Abdalhalim juga terus meningkatkan pemahamannya tentang Islam.

JEJAK SYIAH DI SUMATERA BARAT

Oleh : Ibnu Aqil D. Ghani

 

   Islam Masuk Ke Sumaterra Tengah

                Para ahli Sejarah Islam dari Timur Tengah menyatakan bahwa  hubungan dagang antara pulau Andalas dengan Timur Tengah telah ada sejak sebelum Nabi Isa lahir. Terutama dengan negeri-negeri di Yaman misalnya dengan Saba’, San’a dan sebagainya. Hubungan tersebut tetap berlanjut sampai berabad-abad  kemudian dan tidak putus hingga sampai masa kenabian.

Para pedagang dari kedua belah pihak  secara aktif melakukan interaksi positif. Mereka saling berkunjung dan membawa barang dagangan masing-masing. Para pedagang Arab datang ke Andalas dan para pedagang Andalas datang ke Arab. Sehingga kedua belah pihak telah saling mengenal. Dari Andalas barang dagangan yang laku keras adalah kemenyan, kapur barus, emas dan kayu cendana. Diyakini oleh banyak kalangan bahwa kata “Kafuro” dalam Al Qur’an adalah kata yang berasal dari bahasa Melayu.

Kelahiran Islam yang dibawa oleh Nabi Saw (penghujung abad ke Enam (Nabi Saw lahir 571 M) diperkirakan sezaman dengan munculnya kerajaan Melayu Lama. Kerajaan Melayu Lama waktu itu satu-satunya kerajaan bangsa Melayu. Sedangkan  asal usul mereka bangsa Melayu terdapat dua versi pertama ada yang mengatakan mereka tiba melalui Bukit Siguntang-guntang di Sumatera Selatan dan sebagian mengatakan turun dari Gunung Merapi.  Hermat saya kedatangan bangsa Melayu pertama kali di Asia Tenggara  di Gunung Merapi jauh lebih kuat, dan ini sesuai dengan Tambo Lama Melayu

Dari Mana datang pelita

Dari Telong nan bertali”

Dari mana nenek moyang kita

 Dari puncak Gunung Merapi

 

Namun mengenai Kerajaan Melayu Lama sebagai kerajaan Melayu tertua tak seorang pun ahli sejarah Melayu yang membantahnya. Kerajaan Melayu Lama didirikan oleh salah seorang nenek moyang bangsa Melayu “Sang Sapurba”. Salah seorang dari anak Sang Sapurba mendirikan kerajaan Melaka di Semenanjung namanya Prameswara. Ia meluaskan kerajaannya dengan menguasai Raja Lebar Daun di Sumatera Selatan atau Palembang sekarang.

Maka orang-orang dari pusat kerajaan Melayu lama itulah yang melakukan perdagangan dengan bangsa Arab pra Islam.Dan kebiasaan berdagang keseluruh dunia ini akhirnya menjadi budaya bagi bangsa Melayu:

Keratau madang di hulu

Berbuah berbunga belum

Kerantau b ujang dahulu

Di rumah berguna belum

 

Dengan saling berkunjungnya para pedagang Arab dan Melayu ke Sumatera yang weaktu itu disebut pulau Emas maka informasi tentang kenabian Muhammad Saw telah sampai ke dunia Melayu sejak Nabi Saw mulai berdakwah di Makkah. Namun, baru menjadi perhatian luas setelah beliau membangun Daulah Islam di Madinah. Dengan berkembangnya Islam secara pesat di Madinah tentu sangat menarik bagi para pedagang Melayu yang pulang balik ke Arab.

Mengenai keberadfaan Nabi di Makkah dan Madinah telah disebut-sebut seorang yang berpengaruh di Melayu Tua yang dianggap sebagai Tetua Adat Dt Perpatih Nan sabatang dalam syair-syairnya.

  Dalam waktu yang tak begitu lama, Islam berkembang pesat di seluruh Melayu Lama dan diikuti oleh negeri-negeri lain yang merupakan rantau Melayu. Waktu itu kerajaan Melayu yang muncul di negeri lain tetap berinduk ke pada Melayu Lama. Kerajaan Melayu yang lain, misalnya Sriwijaya, Tulang Bawang, Taramu Negara, Pahang dan Trenggano misalnya merupakan kerajaan-kerajaan yang didirikan oleh putra-putra Melayu lama yang merantau ke sana.

Dengan Islamnya Melayu Lama dan diikuti oleh bangsa-bangsa Melayu yang menyebar di Asia Tenggara membuat kekuatiran yang berlebihan dari bangsa Jawa yang masih beragama Hindu dan Budha sehingga mereka melakukan penyerangan membabi buta terhadap Melayu Lama sehingga terjadilah perang dahsyat di Kiliran Jawo. Kedatangan bangsa Jawa (Singosari) tersebut kemudian oleh sejarawan disebut Ekspedisi Pamalayu.

Bangsa Melayu Lama tak dapat dikalahkan sepenuhnya. Para prajurit Muslim mengumpulkan kekuatan dan membangun Kerajaan kembali dengan pusatnya dipindahkan ke Pagaruyung. Kerajaan yang dibangun kembali itu  akhirnya dikenal sebagai Kerajaan Melayu MInangkabau yang kemudian lebih dikenal dengan Minangkabau atau Kerajajan Pagaruyung.

Dengan demikian, Islam telah masuk ke Sumatera Tengah jauh sebelum masuk ke Aceh atau Malaka dan dibawa langsung oleh Ulama dari Timur Tengah dan Ulama pedagang Melayu Lama (MInangkabau).

Bani Ghassan Menyingkir dan Terdampat di Pantai Barat Sumatera Tengah

                Di masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq terjadi peperangan dengan kaum Muslim yang engkar berzakat terutama Bani Ghassan. Sebagian Bani Ghassan menyingkir ke laut dan menjadi pengungsi. Sebagiannya sampai ke Pantai Barat Sumatera. Mereka tinggal di suatu tempat yang kemudian tempat mereka itu disebut Ghassan dekat dengan Tiku Agam. Dengan demikian, pengungsi Bani Ghassan dekat dengan pusat Minangkabau yakni Luhak Nan Tigo (Agam, Tanah Datar dan 50 Kota)..

                Di perkampungan mereka yang baru akhirnya mereka diterima dan mereka  berbaur dengan masyarakat dan menyadari kekeliruan metreka. Mereka tetap menjadi Muslim seperti sediakala. Diterimanya kedatangan mereka serta kembalinya memeluk Islam sebagaimana sediakala besar kemungkinan disebabkan oleh karena masyarakat Melayu telah memeluk Islam dan masyarakat Melayu menerima ajaran Islam secara utuh.

                Sampainya orang-orang Bani Ghassan ke perkampungan Ghassan di sekitar Tiku Agam – Sungai Limau Padang Pariaman bolehj jadi di masa Abu Bakar Ash-shidiq dan bisa jadi beberapa tahun setelah Abu Bakar Shidiq. Dan jika pun setelah khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq tentulah tak memakan waktu yang lama.

Pada Masa Bani Umayyah

                Sebagian sejarawan meyakini islam masuk ke Indonesia pada masa Bani Umayyah atau lebih kurang tahun 40 Hijrah. Dan di bawa oleh Ulama dan pedagang Arab yang sampai ke Indonesia. Dan negeri yang mula-mula masuk Islam adalah Melayu Lama. Sebagian lagi menyebut Aceh adalah negeri pertama yang menjadi Muslim.

                Tetapi oleh karena para pedagang Melayu tak putus-p[utus berhubungan dengan pedagang Timur Tengah maka masuknya Islam ke Melayu Lama jauh lebih  awal. Apa lagi sejak sediakala bangsa Melayu telah dikenal sebagai pelaut, pedagang yang suka pergi ke negeri-negeri yang jauh.

                “Keratau madang di hulu berbuah berbunga belum

                Ke rantau bujang dahulu di rumah berguna beluim”

               

Dengan demikian dugaan bahwa islam menyebar dari Melayu Lama ke Barus, Aceh, Deli dan malaka lebih kuat. Karena pada dasarnya negeri-negeri tersebut adalah dengan perluasan bangsa Melayu dimana mereka mengakui nenek moyang mereka berasal dari Timur Tengah. Pengakuan bahwa bangsa Melayu berasal dari Sumateras tengah (Gunung Merapi) diakui oleh seluruh bangsa Melayu, terrutama cerita-cerita dari nenek moyang mereka yang teguh memegang tradisi bangsa Melayu. . Itulah sebabnya Melayu Lama (Tua) yang kemudian dikenal dengan Pagaruyung dihormati dan tak ada suatu raja pun yang mau melawannya, apa lagi menyerangnya.

 

Syiah Masuk Ke Minangkabau

                Masuknya Syiah ke Minangkabau adalah di penghujung abad ke 17. Diperkirakan datang dari dua jalur yakni  India                dan Persia. Jalur India terbukti sebutan bagi pendakwah dengan Labbay yang merupakan nama kota Muslim di Gujarat. Sedangkan jalur Persia lewat  Aceh melalaui Hamzah Al Fansyuri. Dan orang pertama yang mengembangkan Syiah lewat Aceh tersebut adalah para murid Hamzah Al Fansyuri dan terkemuka adalah Sekh Burhanuddin.Burhanuddin sendiri sebenarnya bukanlah nama seseorang tetapi lebih kepada gelar kehormatan yang berarti Burhan Addin (Penerang Agama).

                Baik yang datang dari India maupun dari Persia keduanya beraliran Syiah. Keduanya berkembang di pantai Barat Sumatera Barat sekarang ini, tepatnya kawasan Padang Pariamasn.

Kewlompok Syatariah akhirnya jauh lebih berkembang dan pustnya di Ulakan, Pakandangan dan Amnapalu Tinggi. Sedangkan dari India berkembang sekitar kota Pariaman sekarang ini. Dengan demikian tradisi bersafar dihidupkan oleh kelompok Syatariah sedangkan tradisi Tabuik (Tabut) dikembangkan oleh dari Gujarat India.

Namun bagaimana pun Syiah dan pengaruhnya tak begityu luas. Tidak melampaui kawasan Padang Pariaman. Sementara kawasan-kawasan yang dekat dengan pusat Kerajaan Melayu yang kemudian menjadi Minangkabau tetap berpaham Sunni.

 

Jejak Syiah di Sumatera Barat.

 Jejak Syiah di Sumbar masih terlihat jelas. Setidaknya hal itu didukung oleh beberapa fakta:

  1. Aliran Tarikat Syatariyah dan Wihdatul Wujud
  2. Pembawa Syiah dari Aceh masih rajin dikunjungi atau diziarahi oleh masyarakat Sumbar
  3. Budaya Tabuk di Pariaman
  4. Pernik-pernik pemikiran Syiah  masih tertanam di sebagian masyarakat

Kendati demikian, pengaruh Syiah tidaklah masuk ke dalam wilayah yang luas. Dan secara umum Sumbar tak tersentuh oleh ajaran Syiah. Paham Syiah berkembang di Padang Pariaman. Terutama di sekitar Ulakan serta pengikut Tarikat Syatariyah. 

Thariqat Syatariyah dan Wihdatul Wujud

                Thariqat Syatariyah adalah suatu Thariqat yang menisbahkan imam-imam mereka kepada ulama-ulama Syi’ah dan sampai ke Imam Ali. Antara Tariqat ini dengan aqidah Wihdatul Wujud yang dikembangkan oleh tradisi Syiah sangat dekat.

                Ke Sumatera Barat Thariqat ini dibawa oleh seorang anak muda dari Sikaladi Batusangkar (sebelah Utara Pagaruyung). Dan di daerah utama Minangkabau ini ajarannya tak diterima. Sehingga ia menyingkir ke Sintuk Pariaman. Dan dI Pariaman inilah ajarannya berkembang dengan pesat.

Syekh Burhanuddin

                Sekh Burhanuddin bukan lama sebenarnya, tetapi gelar kehormatan bagi pengembang Syiah di berbagai tempat. Setidaknya ada dua sosok Sekh Burhanuddin yang terkenal yakni Sekh Burhanuddin di Bengkulu  dan Sekh Burhanuddin di Pariaman. Keduya-duanya beraliran Syiah.

                Sekh Burhanuddin Bengkulu nama kecilnya Imam Senggolo yang dimakamkan di Pemakaman Karbela Bengkulu. Meski bukan pembawa Syiah pertama ke Bengkulu namnya cukup dikenal luas. Para penyebar agama Islam beraliran Syiah pertama  dari Punjab yang datang ke Bengkulu pada waktu itu adalah para pelaut ulung di bawah pimpinan Imam Maulana Irsyad. Rombongan Imam Maulana Irsyad yang datang ke Bengkulu berjumlah 13 orang, antara lain terdapat : Imam Sobari, Imam Bahar, Imam Suandari dan Imam Syahbuddin. Mereka tiba di Bengkulu pada tahun 1336 Masehi (756/757 Hijriah). Setibanya di Bengkulu kaum Syiah penyayang Amir Hussain ini langsung melaksanakan rangkaian Upacara Ritual Tabot yang diselenggarakan selama 10 hari, yakni dari akhir bulan Dzulhijjah 756 H sampai dengan tanggal 10 Muharram 757 H. Nama Imam Maulana Irsyad dan kawan-kawan ini kurang dikenal dalam sejarah, hal ini mungkin mereka pada waktu itu belum menetap secara tetap di Bengkulu. Nama yang lebih dikenal dalam sejarah Tabot di Bengkulu adalah Syekh Burhanuddin (Imam Senggolo). Syekh Burhanuddin hidup di Bengkulu pada masa Inggeris sudah masuk ke Bengkulu, yakni antara tahun 1685 sampai dengan 1825..

Syekh Burhanuddin Pariaman (Ulakan)  adalah seorang beraliran Syiah melalui Tariqat Syatariyah di Minangkabau dilahirkan di Guguk Sikaladi Pariangan Padang Panjang dengan nama kecil Pono. Ia mendalami Tariqat Syatariyah dengan tokoh Aceh terutama berguru pada Abdur Rauf Singkli (Syiah Kuala)  selama 10 tahun  sekembali dari Aceh mendirikan surau di Tanjung Medan dan surau-surau lainnya di Ulakan.

Syekh Burhanuddin ini meninggal dunia pada hari Rabu 10 Syafar tahun 1116H atau 1704 M di Ulakan. Hari kematiannya dirayakan pengikutnya setiap tahun yang dikenal dengan nama “basapa”. Jika 10 Syafar jatuhnya pada hari Rabu, akan diperingati sebagai “basapa gadang” , bersapar besar-besaran.

Sekh Burhanuddin Ulakan adalah tokoh yang berperan penting dalam mengembangkan ajaran Syiah melalui Tariqat Syatariyah. Meski dia sendiri berasal dari Tanah Datar, namun hampir tak ada pengaruhnya di Tanah Datar. Kemungkinan dia  diusir oleh masyarakat karena ajarannya yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam. Tetapi, di daerah pesisir barat terutrama Ulakan dan Padang Pariaman ajarannya banyak diterima.

Sementara gurunya  Abur Rauf Singli  (1105- 1193) berasal dari Persia. Dia dianggap sebagai orang pertama pembawa ajaran Syatariyah ke Indonesia. Gurunya yang lain adalah Hamzah Al Fansyuri. Sedangkan Tariqat Syatariyah sendiri merupakan kelanjutan dari pengembangan paham sesat Wihdatul Wujud yang diajarkan olkeh Ibnu Arabi dan Al Halaj.

Tabot

Tidak ada catatan tertulis sejak kapan upacara Tabot mulai dikenal di Bengkulu. Namun, diduga kuat tradisi yang berangkat dari upacara berkabung para penganut paham Syi’ah ini dibawa oleh para tukang yang membangun Benteng Marlborought (1718-1719) di Bengkulu. Para tukang bangunan tersebut, didatangkan oleh Inggris dari Madras dan Bengali di bagian selatan India yang kebetulan merupakan penganut Islam Syi‘ah.

Para pekerja yang merasa cocok dengan tatahidup masyarakat Bengkulu, dipimpin oleh Imam Senggolo alias Syekh Burhanuddin, memutuskan tinggal dan mendirikan pemukiman baru yang disebut Berkas, sekarang dikenal dengan nama Kelurahan Tengah Padang. Tradisi yang dibawa dari Madras dan Bengali diwariskan kepada keturunan mereka yang telah berasimilasi dengan masyarakat Bengkulu asli dan menghasilkan keturunan yang dikenal dengan sebutan orang-orang Sipai.

Tradisi berkabung yang dibawa dari negara asalnya tersebut mengalami asimilasi dan akulturasi dengan budaya setempat, dan kemudian diwariskan dan dilembagakan menjadi apa yang kemudian dikenal dengan sebutan upacara Tabot. Upacara Tabot ini semakin meluas dari Bengkulu ke Painan, Padang, Pariaman, Maninjau, Pidie, Banda Aceh, Meuleboh dan Singkil. Namun dalam perkembangannya, kegiatan Tabot menghilang di banyak tempat. Hingga pada akhirnya hanya terdapat di dua tempat, yaitu di Bengkulu dengan nama Tabot dan di Pariaman Sumbar (masuk sekitar tahun 1831) dengan sebutan Tabuik. Keduanya sama, namun cara pelaksanaannya agak berbeda.

Jika pada awalnya upacara Tabot (Tabuik) digunakan oleh orang-orang Syi‘ah untuk mengenang gugurnya Husein bin Ali bin Abi Thalib, maka sejak orang-orang Sipai lepas dari pengaruh ajaran Syi‘ah, upacara ini dilakukan hanya sebagai kewajiban keluarga untuk yakni memenuhi wasiat leluhur mereka. Belakangan, sejak satu dekade terakhir, selain melaksanakan wasiat leluhur, upacara ini juga dimaksudkan sebagai wujud partisipasi orang-orang Sipai dalam pembinaan dan pengembangan budaya daerah Bengkulu setempat.

Kondisi sosial budaya masyarakat, nampaknya, juga menjadi penyebab munculnya perberbedaan dalam tatacara pelaksanaan upacara Tabot. Di Bengkulu, misalnya, Tabotnya berjumlah 17 yang menunjukkan kepada jumlah keluarga awal yang melaksanakan Tabot, sedangakan di Pariaman hanya terdiri dari 2 macam Tabot (Tabuik) yaitu Tabuik Subarang dan Tabuik Pasa. Tempat pembuangan Tabot (Tabuik) antara Bengkulu dan Pariaman juga berbeda. Pada awalnya Tabot di Bengkulu di buang ke laut sebagaimana di Pariaman Sumatera Barat. Namun, pada perkembangannya, Tabot di Bengkulu dibuang di rawa-rawa yang berada di sekitar pemakaman umum yang dikenal dengan nama makam Karbela yang diyakini sebagai tempat dimakamnya Imam Senggolo alias Syekh Burhanuddin.

            Pariaman bermakna daerah yang aman, adalah sebuah kota yang pernah menjadi bagian dari Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Sejak 2002 Kotif Pariaman menjadi Kota Pariaman dengan empat Kecamatan. Di daerah ini Tabuik konon sudah dikenal sejak tahun 1831 yang dibawa oleh tentara Inggris asal Sepoy atau Cipei (India). Bila di Bengkulu ada 17 Tabot, di Pariaman hanya ada 2 Tabuik yang melambangkan peti jenazah Hasan ra dan Husein ra, cucu Nabi Muhammad Shalalhu Alaihi Wasallam.

Bila di bengkulu dinamakan Festival Tabot, di Pariaman dinamakan Pesta Budaya Tabuik Piamanyang sejak 1974 menjadi kegiatan rutin bidang wisata Pemkot Pariaman. Sebagaimana di Bengkulu, Tabuik Pariaman juga diselenggarakan pada tanggal 1-10 Muharram, dan merupakan upacara peringatan atas meninggalnya Husein ra (cucu Nabi Muhammad Shalalhu Alaihi Wasallam).

 

Menurut Uun Halimah (uun-halimah.blogspot.com), prosesi panjang Tabuik diawali dengan membuat tabuik di dua tempat, yaitu di pasar (tabuik pasar) dan subarang (tabuik subarang).Masing-masing terdiri dari dua bagian (atas dan bawah) yang tingginya dapat mencapai 12 meter. Bagian atas mewakili keranda berbentuk menara yang dihiasi dengan bunga dan kain beludru berwarna-warni. Sedangkan, bagian bawah berbentuk tubuh kuda, bersayap, berekor dan berkepala manusia.

Bagian bawah ini menurut Uun Halimah pula, mewakili bentuk burung Buraq yang dipercaya membawa Husein ra ke langit menghadap Yang Kuasa. Kedua bagian ini kemudian disatukan. Caranya, bagian atas diusung secara beramai-ramai untuk disatukan dengan bagian bawah. Setelah itu, berturut-turut dipasang sayap, ekor, bunga-bunga salapan dan terakhir kepala. Untuk menambah semangat para pengusung tabuik biasanya diiringi dengan musik gendang tasa. Penyatuan dua bagian tabuik (atas dan bawah) biasanya usai menjelang waktu shalat dzuhur tiba. Kedua tabuik tadi dipajang berhadap-hadapan dan merupakan personifikasi dari dua pasukan yang akan berperang.

Ba’da Ashar, kedua tabuik diarak keliling Kota Pariaman. Masing-masing tabuik dibopong oleh delapan orang pria. Arak-arakan berlanjut hingga ke Pantai Gandoriah. Di tempat ini kedua tabuik diadu, untuk menggambarkan situasi perang diPadangKarbala. Usai diadu, kedua tabuik dibuang ke laut. Prosesi membuang tabuik ke laut ini melambangkan dibuangnya segala silang sengketa di masyarakat. Sekaligus, melambangkan terbangnya burung Buraq membawa jasad Husein ra ke Surga.

Terkesan, tradisi tabuik ini merupakan perpaduan antara tradisi syi’ah dan Hindu. Maka untuk memberi kesan Islami, pada perayaan tabuik yang berlangsung selama 10 hari ini, dibumbui pula dengan hal-hal yang berbau Islam, antara lain pengajian yang melibatkan ibu-ibu serta murid-murid TPA dan Madrasah Kota Pariaman.

Tahapan Pesta Budaya Tabuik di pariaman pada dasarnya sama saja dengan Festival Tabot di Bengkulu:

  1. Membuat tabuik.
  2. Menyatukan bagian atas dan bawah tabuik (tabuik naik pangkat).
  3. Mengambil tanah yang dilakukan saat adzan Maghrib (maambiak tanah). Pengambilan tanah ini mengandung pesan bahwa setiap manusia berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Tanah yang sudah diambil tadi kemudian diarak dan disimpan di dalam daraga, sebuah wadah berukuran 3 x 3 meter, dibalut kain putih, akhirnya dimasukkan ke dalam tabuik (pelambang peti jenazah).
  4. Mengambil batang pisang (maambiak batang pisang), kemudian ditanamkan di dekat pusara.
  5. Mengarak panja yang berisi jejari tangan tiruan keliling kampung (maarak panja-jari). Makna simboliknya, untuk memberitahukan kepada pengikut Husein ra bahwa jari-jari tangan Husein ra yang tercecer saat Perang Karbala telah ditemukan.
  6. Mengarak sorban (maarak sorban), yang mengandung makana simbolik bahwa Husein ra telah tewas dipenggal lawannya.
  7. Membuang tabuik, yaitu membawa tabuik ke pantai dan dibuang ke laut.

Pada tahun 2010 lalu, Pesta Budaya Tabuik Piaman digelar pada tanggal 7 hingga 19 Desember 2010. Agar terlihat Islami, pesta budaya ini diawali dengan Dzkir Bersama dan Tausiyah. Menurut Mukhlis Rahman (Walikota Pariaman), pesta budaya tabuik tahun 2010 berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena pada tahun 2010 ini juga ditampilkan pagelaran Barongsai, yang merupakan budaya khas Cina.

Jadi, pesta budaya tabuik pariaman ini campuran berbagai unsur, yaitu syi’ah, Hindu, Cina Konghucu dan Islam. Boleh jadi, ini namanya sinkretisme yang mengandung kemusyrikan, dan dibiayai pemerintah setempat.

Nampaknya, pemkot Pariaman cukup serius menjadikan tradisi tabuik sebagai bagian dari objek wisata lokal yang bisa dijual. Faktanya, pada tanggal 9 April 2011 lalu, pemkot Pariaman meresmikan dua unit Rumah Tabuik, yang dimaksudkan sebagai pusat kebudayaan, seni, dan tradisi Pariaman. Dana pembuatan rumah tabuik ini berasal dari APBN sebesar Rp2,3 miliar dan dana APBD Pariaman Rp1,71 miliar. Rumah tabuik terdiri dari Rumah Tabuik Pasa yang berlokasi di Jl. Syech Burhanuddin. Satu unit lainnya yaitu Rumah Tabuik Subarang terletak di Jl. Imam Bonjol.

Menurut penjelasan pihak terkait, Rumah Tabuik didirikan untuk menjalankan fungsi sebagai Museum Budaya, agar masyarakat luas dapat memperoleh informasi lengkap tentang proses pembuatan tabuik dan latar belakang sejarah yang menyertainya. Juga, dimaksudkan sebagai pusat pembuatan seluruh prosesi Tabuik. Yang lebih penting, dua unit rumah tabuik ini dimaksudkan sebagai alternatif tujuan wisata di kawasan Sumatera Barat.

Wihdatul Wujud

Sirnanya Pengaruh Syiah

Lama kelamaan pengaruh Syiah terus berkurang. Sirnanya pengaruh Syiah di MInangkabau disebabkan oleh beberapa hal diantaranya adalah

  1. Gencarnya dakwah yang dilakukan oleh ulama-ulama Minangkabau
  2. Munculnya para pembaharu yang sering disebut Harimau Nan Salapan yang akhirnya menyebabkan terjadinya Perang Paderi
  3. Berdirinya berbagai pondok pesantren secara merata di Sumatera Barat.

 

Syiah Gelombang Kedua

                Syiah gelombang kedua pengaruhnya masuk Ke Minangkabau (Sumbar), sekitar tahun 1978-1990. Hal itu disebabkan oleh pengaruh gegap gempitanya Revolusi Islam yang dibawa oleh Ayatullah Khomaini. Dan beliau berhasil menumbangkan tokoh sekuler Syah Reza Pahlevi.

                Tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh yang pikiran, semangat dan karyanya banyak dibaca oleh generasi muda waktu itu adalah Ali Syariati, Thaba’-Thaba’i di samping Imam Khomaini sendiri.

                Pengaruh tersebut bukan hanya melalui buku-buku bahkan diantara pemuda dan tokoh Sumbar pergi sendiri ke Iran dan me4nyambangi kota-kota seperti Qum dan Taheran. Diantara tokoh yang sampai ke Iran tersebut terdapat mahasiswa dan tokoh mubaligh.

                Sekembali dari Iran mereka cendrung kesyiah-syiahan. Misalnya mereka berceramah tentang keunggulan Revolusi Islam dan keagungan perjuangan Khomaini. Bahkan masyarakat menganggapnya benar-benar telah menjadi Syiah.

                Tetapi ketika masa euferia Revolusi Islam Iran berlalu, semangat kesyiahan mereka menjadi redup kembali. Dan hamp[ir tak ada mereka yang betul-betul menjadi Syiah.

                Hal ini berbeda dengan daerah lain dimana terdapat tokoh-tokoh yang benar-benar Syiah. Dan menyatakan dirinya benar-benar Syiah. Namun kebanyakan mereka masih samar-samar, apakah Syiah benaran atau tidak. Namun setelah kjasus Sampang, maka jati diri mereka mulai terbuka.

 

PROFIL RUMAH MUALAF INDONESIA

Ke samping

Profil RMI

Nama Lembaga

Lembaga ini bernama : Lembaga Amal dan Dakwah Rumah Muallaf Indonesia didirikan tanggal 01 Ramadhan 1432 H/1 Agustus 2011di Padang dengan Akte Notaris Dra Butet SH no 15 tanggal 12 Desember 2011.

A. Latar Belakang

Bismillahirrahmnirrahim,

Alahamdulillah atas segala nikmat yang diberikan Allah Subhanahu Wata’ala terhadap para hamba-Nya yang yang lemah  ini. Hanya karena nikmat dan karunia Allah itulah seorang hamba dapat melaksanakan tugas kesehariannya dengan kemampuan dan upaya terbaiknya. Shalawat dan salam untuk junjungan  Nabi  Muhammad Saw yang telah mewariskan agama yang haq kepada ummat ini, sehingga dengan tuntunan yang beliau  wariskan  itu ummat  dapat hidup dalam keridhaan-Nya. Amin !

Dakwah Islam selalu menggema, memasuki relung hati manusia paling dalam. Banyak mereka yang mendapat siraman dakwah, akhirnya memilih Islam sebagai jalan hidup. Terbukti  semakin banyak orang masuk Islam di berbagai kawasan dan Negara di seluruh dunia.

Dalam bahasa syar’i mereka yang baru mendapat hidayah itu disebut mua’llaf. Mereka masih perlu bantuan dan bimbingan terutama dalam pemahanan dan pelaksanaan ajaran Islam. Termasuk juga bantuan moral agar mereka menjadi mapan dalam Islam. Namun, tak jarang di antara mereka perlu bantuan material berupa dana cuma-cuma untuk mengurangi penderitaan  akibat resistensi, tantangan serta permusuhan dari keluarga ataupun komunitas mereka.

Ada mereka yang terusir dari keluarga. Ada pula yang tak diperkenankan pulang ke sanak saudaranya. Ada yang tak diakui lagi menjadi anak. Malah ada yang terancam jiwanya. Itulah sebabnya Allah menetapkan muallaf salah satu dari asnaf yang delapan, orang yang berhak menerima zakat.

Selama ini, ummat Islam dan para penggiat dakwah bergembira dengan adanya muallaf baru sebagai saudara baru mereka dalam Islam.  Lantas muallaf itu  diberi bantuan alakadarnya saja. Tetapi soal pendidikan; aqidah, cara shalat, akhlaq dan lain-lain  sebagainya tidak diperhatikan dengan baik. Sehingga sebagian mereka tersia-siakan. Mereka menjadi orang yang sangat awam dengan Islam bahkan ada diantara mereka yang tak shalat sama sekali meski sudah bertahun-tahun menjadi Muslim dikarenakan tak ada yang mengajarkannya. Tegasnya mereka tidak terbina dengan baik dan dibiarkan mu’allaf selama-lamanya.

Begitu pula mereka yang terancam aqidahnya. Mungkin karena bujuk rayu para misionaris, atau ditelan oleh buasnya terpaan hidup berkepanjangan. Boleh jadi karena siraman dakwah tak sampai kepada mereka. Aqidah mereka gosong dan kering. Akhirnya mereka pun murtad.

Rumah Muallaf Indonesia adalah lembaga dakwah yang fokus pada lahan dakwah yang kritis itu. Lahan dakwah yang sering terabaikan dan dibiarkan gersang di padang gurun kehidupan. Sebab Itu  Rumah Muallaf Indonesia setrategis untuk dapat dijadikan sebagai pusat pendidikan, pembinaan dan untuk memberikan jalan keluar dari persoalan muallaf.

Sebagai suatu Lembaga Dakwah, Rumah Muallaf Indonesia perlulah diekspos dan diperkenalkan kepada ummat. Sehingga ummat dapat mengetahui apa sesungguhnya rumah muallaf itu. Pengenalan tersebut sebaiknya tertuang dalam buku yang membuat profil Rumah Muallaf, sehingga dapat dimamfaatkan dengan baik dan lebih berkesan.

Visi, Misi dan Tujuan Didirikan Rumah Muallaf Indoensia

VISI DAN MISI LEMBAGA

Visi Lembaga: “Rumah Muallaf Indonesia Sahabat Muallaf terpercaya, tegak  di depan untuk membina Muallaf yang mapan”(Angggaran Dasar Rumah Muallaf Indonesia pasal 7).

Misi Lembaga

Misi lembaga adalah seperti yang dituangkan dalam Anggaran dasar Rumah Muallaf Indonesia pasal 8 :

  1. Melakukan kajian konprehensif tentang amal dakwah dalam pembinaan para muallaf
  2. Menumbuhkembangkan kesadaran ummat tentang amal dan dakwah yang berkaitan dengan pembinaan muallaf
  3. Menumbuhkembangkan potensi ummat untuk pembinaan para muallaf
  4. Membina potensi muallaf untuk menjadi muallaf yang mapan dan menyebarluaskan dakwah pada diri, keluarga dan komunitasnya

USAHA DAN KEGIATAN LEMBAGA

Untuk mencapai maksud dan tujuan lembaga kegiatan yang dilakukan lembaga diantara lain adalah:

  1. Bekerja sama dengan para ulama dan sarjana serta intelektual Islam dalam melahirkan hasil kajian tentang tanggung jawab Ummat dalam membina muallaf.
  2. Bekerja sama dengan ‘buhul ummat’ lainnya (ulama, tokoh, Ormas, Imam, Khatib) dan pemerintah dalam menumbuhkembangkan kesadaran ummat tentang amal dan dakwah yang berkaitan dengan pembinaan muallaf
  3. Menumbuhkembangkan potensi ummat untuk pembinaan para muallaf, misalnya dengan memamfaatkan lembaga keuangan syariah dan zakat serta infaq ummat untuk dapat disalurkan kepada muallaf yang membutuhkannya
  4. Melakukan bimbingan bersyahadat, pembinaan selepas bersyahadat seperti pelurusan aqidah, bimbingan ibadah sehari-hari, bimbingan akhlaq Muslim dan berbagai kursus keterampilan yang berguna dalam kehidupan muallaf.
  5. Memberikan pendidikan Keislaman bagi Mualaf sebagai bekal dalam megharungi kehidupan sebagai pemeluk Islam yang baru bersyahadah.
  6. Memberikan beasiswa, mencarikan orang tua asuh, atau mencarikan pesantren yang sesuai bagi para muallaf potensial sehingga dapat menjadi muallaf yang mapan dan menyebarluaskan dakwah pada diri, keluarga dan komunitasnya
  7. Memberikan bantuan lain yang diperlukan sesuai dngan kondisi mualaf dan kondisi Rumah Muallaf Indonesia pada waktu semasa.
  8. Membantu para muallaf di daerah rawan bencana dan rawan aqidah  misalnya korban bencana, daerah pedalaman dan suku terasing dan kawasan  tertinggal.

Pengasas, Pembina dan Awak Rumah Muallaf Indonesia

Pendiri (pengasas) Rumah Muallaf Indonesia  adalah Buya Ibnu Aqil D. Ghani. Lahir di Durian Gadang Batuhampar 50 Kota tahun 1960. Beliau adalah alumnus Pesantren Almanar Batuhampar 50 Kota. Pendidikan formalnya yang terakhir adalah pada Jurusan Kimia FPMIPA IKIP Padang. Dikenal juga sebagai perintis dan pengajar Pondok Pesantren Subulussalam (19 tahun menjadi guru dan Kepala Sekolah), Mubaligh sejak dari mudanya dan aktivis dalam berbagai organisasi. Diantaranya Ketua Paga Nagari Sumbar, Wakil Ketua Liga dakwah Sumbar, Ketua Harian MTKAAM. Selain itu beliau juga telah menulis 18 buah buku.

Para Pembina Rumah Muallaf Indonesia adalah Buya H. Rusdi, SH. (Mantan dosen di Akabah, STAIN Bukitting dan Fakultas Hukum Muhammadiyah Bukittinggi, hakim Tinggi di lampung, Aceh dan Sumbar, menjadi hakim Tipikor di Aceh. Ketua MUI Sumbar 2 priode bidang Ukhuwah,  Ketua DDII Lampung Sumbar. Menjadi salah seorang dari 7 orang perumus Qanun Syariah Islam di Aceh).    H. Maat Acin Rajo Bagak, mantan Kadispen Polda Sumbar, Ketua Gerakan Muslim Minangkabau.  H. Abdullah Ibrahim SH (Mantan Kasiintel Polda Sumbar, ketua Persatuan masyarakat Aceh di Sumatera Barat, penulis buku perbandingan agama; ‘Mari Berdialog’). Taufik M, SAg (Ketua Pengurus Persatuan MDA sekota Padang, Qari, guru PNS). Ust Ir H.  Trianda Farhan, Msc (dosen Unand, DPRD Sumbar). Hj. Yuhelma Syawir (aktivis dakwah dari Forum Sulaturrahmi Majlis Ta’lim Sumbar yang perhatiannya terhadap dakwah dikenal luas di Sumbar. Ustaz Shalahudin (Bujang M) alumni LIPIA Jakarta (Payakumbuh).

Penasehat dan Tenaga Ahli adalah: 1) H. Syamsul Bahri SHI (Kristolog dari Bukittingi), 2). Irwandi Nasir (Dosen STAIN Bukittinggi), 3) Drs. Amir Azli MPD (dosen di  Pariaman), Al Hafiz Muhammad Amin SIQ, (Muallaf, Padang), 4. Buya H. Amri Mansyur (dosen Universitas Baiturrahmah, Padang), Ir Jamal Husni (Batusangkar).

Pengurusan  LAD RMI diketuai langsung oleh Ibnu Aqil D. Ghani, dengan tim sekretaris Aristoteles, SEI, Bendahara Dra Latifah, Seksi Pembangunan Anes Satria, Seksi dokumentasi dan Pengadaan Roni Putra ST,seksi pendidikan Drs Suhaimi Khalil, MPd, Humas Ir Guswardi MSi.

Lembaga Amal Dan Dakwah Rumah Muallaf Indonesia

Ke samping

Nama Lembaga

Lembaga ini bernama : Lembaga Amal dan Dakwah Rumah Muallaf Indonesia didirikan tanggal 01 Ramadhan 1432 H/1 Agustus 2011di Padang dengan Akte Notaris Dra Butet SH no 15 tanggal 12 Desember 2011.

A. Latar Belakang

Bismillahirrahmnirrahim,

Alahamdulillah atas segala nikmat yang diberikan Allah Subhanahu Wata’ala terhadap para hamba-Nya yang yang lemah  ini. Hanya karena nikmat dan karunia Allah itulah seorang hamba dapat melaksanakan tugas kesehariannya dengan kemampuan dan upaya terbaiknya. Shalawat dan salam untuk junjungan  Nabi  Muhammad Saw yang telah mewariskan agama yang haq kepada ummat ini, sehingga dengan tuntunan yang beliau  wariskan  itu ummat  dapat hidup dalam keridhaan-Nya. Amin !

Dakwah Islam selalu menggema, memasuki relung hati manusia paling dalam. Banyak mereka yang mendapat siraman dakwah, akhirnya memilih Islam sebagai jalan hidup. Terbukti  semakin banyak orang masuk Islam di berbagai kawasan dan Negara di seluruh dunia.

Dalam bahasa syar’i mereka yang baru mendapat hidayah itu disebut mua’llaf. Mereka masih perlu bantuan dan bimbingan terutama dalam pemahanan dan pelaksanaan ajaran Islam. Termasuk juga bantuan moral agar mereka menjadi mapan dalam Islam. Namun, tak jarang di antara mereka perlu bantuan material berupa dana cuma-cuma untuk mengurangi penderitaan  akibat resistensi, tantangan serta permusuhan dari keluarga ataupun komunitas mereka.

Ada mereka yang terusir dari keluarga. Ada pula yang tak diperkenankan pulang ke sanak saudaranya. Ada yang tak diakui lagi menjadi anak. Malah ada yang terancam jiwanya. Itulah sebabnya Allah menetapkan muallaf salah satu dari asnaf yang delapan, orang yang berhak menerima zakat.

Selama ini, ummat Islam dan para penggiat dakwah bergembira dengan adanya muallaf baru sebagai saudara baru mereka dalam Islam.  Lantas muallaf itu  diberi bantuan alakadarnya saja. Tetapi soal pendidikan; aqidah, cara shalat, akhlaq dan lain-lain  sebagainya tidak diperhatikan dengan baik. Sehingga sebagian mereka tersia-siakan. Mereka menjadi orang yang sangat awam dengan Islam bahkan ada diantara mereka yang tak shalat sama sekali meski sudah bertahun-tahun menjadi Muslim dikarenakan tak ada yang mengajarkannya. Tegasnya mereka tidak terbina dengan baik dan dibiarkan mu’allaf selama-lamanya.

Begitu pula mereka yang terancam aqidahnya. Mungkin karena bujuk rayu para misionaris, atau ditelan oleh buasnya terpaan hidup berkepanjangan. Boleh jadi karena siraman dakwah tak sampai kepada mereka. Aqidah mereka gosong dan kering. Akhirnya mereka pun murtad.

Rumah Muallaf Indonesia adalah lembaga dakwah yang fokus pada lahan dakwah yang kritis itu. Lahan dakwah yang sering terabaikan dan dibiarkan gersang di padang gurun kehidupan. Sebab Itu  Rumah Muallaf Indonesia setrategis untuk dapat dijadikan sebagai pusat pendidikan, pembinaan dan untuk memberikan jalan keluar dari persoalan muallaf.

Sebagai suatu Lembaga Dakwah, Rumah Muallaf Indonesia perlulah diekspos dan diperkenalkan kepada ummat. Sehingga ummat dapat mengetahui apa sesungguhnya rumah muallaf itu. Pengenalan tersebut sebaiknya tertuang dalam buku yang membuat profil Rumah Muallaf, sehingga dapat dimamfaatkan dengan baik dan lebih berkesan.

Visi, Misi dan Tujuan Didirikan Rumah Muallaf Indoensia

VISI DAN MISI LEMBAGA

Visi Lembaga: “Rumah Muallaf Indonesia Sahabat Muallaf terpercaya, tegak  di depan untuk membina Muallaf yang mapan”(Angggaran Dasar Rumah Muallaf Indonesia pasal 7).

Misi Lembaga

Misi lembaga adalah seperti yang dituangkan dalam Anggaran dasar Rumah Muallaf Indonesia pasal 8 :

  1. Melakukan kajian konprehensif tentang amal dakwah dalam pembinaan para muallaf
  2. Menumbuhkembangkan kesadaran ummat tentang amal dan dakwah yang berkaitan dengan pembinaan muallaf
  3. Menumbuhkembangkan potensi ummat untuk pembinaan para muallaf
  4. Membina potensi muallaf untuk menjadi muallaf yang mapan dan menyebarluaskan dakwah pada diri, keluarga dan komunitasnya

USAHA DAN KEGIATAN LEMBAGA

Untuk mencapai maksud dan tujuan lembaga kegiatan yang dilakukan lembaga diantara lain adalah:

  1. Bekerja sama dengan para ulama dan sarjana serta intelektual Islam dalam melahirkan hasil kajian tentang tanggung jawab Ummat dalam membina muallaf.
  2. Bekerja sama dengan ‘buhul ummat’ lainnya (ulama, tokoh, Ormas, Imam, Khatib) dan pemerintah dalam menumbuhkembangkan kesadaran ummat tentang amal dan dakwah yang berkaitan dengan pembinaan muallaf
  3. Menumbuhkembangkan potensi ummat untuk pembinaan para muallaf, misalnya dengan memamfaatkan lembaga keuangan syariah dan zakat serta infaq ummat untuk dapat disalurkan kepada muallaf yang membutuhkannya
  4. Melakukan bimbingan bersyahadat, pembinaan selepas bersyahadat seperti pelurusan aqidah, bimbingan ibadah sehari-hari, bimbingan akhlaq Muslim dan berbagai kursus keterampilan yang berguna dalam kehidupan muallaf.
  5. Memberikan pendidikan Keislaman bagi Mualaf sebagai bekal dalam megharungi kehidupan sebagai pemeluk Islam yang baru bersyahadah.
  6. Memberikan beasiswa, mencarikan orang tua asuh, atau mencarikan pesantren yang sesuai bagi para muallaf potensial sehingga dapat menjadi muallaf yang mapan dan menyebarluaskan dakwah pada diri, keluarga dan komunitasnya
  7. Memberikan bantuan lain yang diperlukan sesuai dngan kondisi mualaf dan kondisi Rumah Muallaf Indonesia pada waktu semasa.
  8. Membantu para muallaf di daerah rawan bencana dan rawan aqidah  misalnya korban bencana, daerah pedalaman dan suku terasing dan kawasan  tertinggal.

Pengasas, Pembina dan Awak Rumah Muallaf Indonesia

Pendiri (pengasas) Rumah Muallaf Indonesia  adalah Buya Ibnu Aqil D. Ghani. Lahir di Durian Gadang Batuhampar 50 Kota tahun 1960. Beliau adalah alumnus Pesantren Almanar Batuhampar 50 Kota. Pendidikan formalnya yang terakhir adalah pada Jurusan Kimia FPMIPA IKIP Padang. Dikenal juga sebagai perintis dan pengajar Pondok Pesantren Subulussalam (19 tahun menjadi guru dan Kepala Sekolah), Mubaligh sejak dari mudanya dan aktivis dalam berbagai organisasi. Diantaranya Ketua Paga Nagari Sumbar, Wakil Ketua Liga dakwah Sumbar, Ketua Harian MTKAAM. Selain itu beliau juga telah menulis 18 buah buku.

Para Pembina Rumah Muallaf Indonesia adalah Buya H. Rusdi, SH. (Mantan dosen di Akabah, STAIN Bukitting dan Fakultas Hukum Muhammadiyah Bukittinggi, hakim Tinggi di lampung, Aceh dan Sumbar, menjadi hakim Tipikor di Aceh. Ketua MUI Sumbar 2 priode bidang Ukhuwah,  Ketua DDII Lampung Sumbar. Menjadi salah seorang dari 7 orang perumus Qanun Syariah Islam di Aceh).    H. Maat Acin Rajo Bagak, mantan Kadispen Polda Sumbar, Ketua Gerakan Muslim Minangkabau.  H. Abdullah Ibrahim SH (Mantan Kasiintel Polda Sumbar, ketua Persatuan masyarakat Aceh di Sumatera Barat, penulis buku perbandingan agama; ‘Mari Berdialog’). Taufik M, SAg (Ketua Pengurus Persatuan MDA sekota Padang, Qari, guru PNS). Ust Ir H.  Trianda Farhan, Msc (dosen Unand, DPRD Sumbar). Hj. Yuhelma Syawir (aktivis dakwah dari Forum Sulaturrahmi Majlis Ta’lim Sumbar yang perhatiannya terhadap dakwah dikenal luas di Sumbar. Ustaz Shalahudin (Bujang M) alumni LIPIA Jakarta (Payakumbuh).

Penasehat dan Tenaga Ahli adalah: 1) H. Syamsul Bahri SHI (Kristolog dari Bukittingi), 2). Irwandi Nasir (Dosen STAIN Bukittinggi), 3) Drs. Amir Azli MPD (dosen di  Pariaman), Al Hafiz Muhammad Amin SIQ, (Muallaf, Padang), 4. Buya H. Amri Mansyur (dosen Universitas Baiturrahmah, Padang), Ir Jamal Husni (Batusangkar).

Pengurusan  LAD RMI diketuai langsung oleh Ibnu Aqil D. Ghani, dengan tim sekretaris Aristoteles, SEI, Bendahara Dra Latifah, Seksi Pembangunan Anes Satria, Seksi dokumentasi dan Pengadaan Roni Putra ST,seksi pendidikan Drs Suhaimi Khalil, MPd, Humas Ir Guswardi MSi.